Monday, September 04, 2006

seperti punggok merindukan bulan

Aku kira untuk malam ini pungguk tidak akan lagi menunggu bulan terbit, tidak akan merindukan bulan lagi. Pungguk udah hilang sabar menunggu ia terbit dari celah-celah awan hitam. Bulan bisa aja menyuruh angin mengusir awan hitam tersebut. Tapi kerna bulan masih mahu berteman bintang dan juga malam hitam maka dibiarkan si pungguk menanti dengan hati luka. Punggok sedari itu, dia kecil juga daif. Bukan apa-apa berbanding dengan binta-bintang juga malam hitam tersebut.

Tapi bulan lupa, biar pungguk udah lari meninggalkan hutan untuk terbang ke gunung merindu bulan, hutan tetap setia menunggu punggok pulang. Untuk menagih cinta si punggok. Hutan itu tetap hijau, tetap rimbun seperti mana punggok terbang pergi mencari bulan. Bulan harus mengerti biar punggok udah curang kepada hutan demi cintanya kepada bulan, hutan tetap ada untuk menerima punggok kembali. Kerna hutan terlalu cintakan punggok. Lagi juga, punggok terbang lari senyap-senyap.

Punggok tidak akan mati biar bulan tidak muncul. Punggok akan tetap hidup bahgia melihat bulan terus sengsara di selimuti malam hitam. Namun hingga waktu itu tiba, punggok akan tetap mencintai bulan, akan tetap merindukan bulan.

2 comments:

azim said...

aku rasa aku adalah punggok itu : meninggalkan kesetiaan untuk terus menanti sedangkan di saat yang sama, kukejari sesuatu yang sebenarnya tidak pasti.

tapi.. salahkah aku jadi seperti itu?

dingin said...

tidak pernah salah kerna ia bukan dosa..

kecuali kamu bohong