Saturday, October 14, 2006

berjalan di jalanan yang gelap

Apa yang aku mengerti tentang perjalanan malam ialah, aku hanya bisa mengalamun sendirian, Kerna tidak ada apa yang bisa mata aku nikmati sepanjang perjalanan. Hanya hitam , hitam dan hitam. Itu yang aku alami semalam, berkeretapi selama 12 jam ke Kelantan, kemudian malam tadi berbas pula selama 5 jam kembali ke ibu kota. Rasa pekat hitam itu masih menempal ke kepala aku.

Rasa tersebut udah lama aku tidak punya. Kerna rasa itu sebetulnya mengingatkan aku berkenaan rasa kecewa cinta yang terputus. Sama ada aku yang memutusin atau aku yang diputisin. Rasanya sama, rasa gelap. Tapi kerna kita hidup ini umpamanya berjalan di jalan yang punyai penghujung, maka aku terus aja berjalan dalam gelap. Tidak ada lagi pelangi, tidak ada lagi mentari, bulan juga intang. Hanya ada gelap dan lampu untuk suluh jalan.

Kerna lampu yang aku guna itu malap, aku hampir-hampir jatuh ke gaung. Mujur tuhan masih sayangi aku. Aku masih bisa nampak dalamnya gaung tersebut dalam samar lampu yang aku bawa dan tidak juga terjatuh. Lampu itu sebetulnya aku perkirakan sebagai iman. Tanpa iman, kita akan meraba dalam gelapnya perasaan kecewa. Terutamnya ketika putus cinta. Gaung pula aku ibaratkan bisikan syaitan yang sering aja mengajak manusia untuk merusakkan dirinya. Khususnya manusia yang kecewa dalam cinta.

Mujur juga dalam malam-malam perjalanan aku ditemani oleh teman yang bijak bicaranya, lantas aku tidak merasa terlalu sepi dalam mengalamun. Untuk itu, aku barangakali baru tersedar bahwanya, jika kita merasakan diri kita ini baru aja berjalan di jalanan yang gelap, bawa sekali teman yang bisa menghilang rasa gelap tersebut dengan senyum dan ketawanya yang ikhlas. Agar kita bisa melepasi zon gelap putus cinta dengan selamat.

Untuk itu, jika baru putus cinta, pastikan jangan terjatuh dalam jurang yang dalam dengan kuatkan nyalaan lampu keimanan agar bisa berjalan dalam rasa gekap kecewa tersebut. Dapatkan juga teman-teman yang bisa memberi segala kata-kata penyegar jiwa. Yang penting jangan sendiri-sendiri, kerna putus cinta itu umpama jalan yang gelap. Apa kalian berani jalan sendiri-sendiri di jalan yang gelap tanpa lampu juga tanpa teman?

2 comments:

Anonymous said...

Cuma kadangkala bila mencampakkan diri ke jurang yang dalam, walau ia membinasakan namun ia akan membuat kita menjadi lali pada kesakitan putus cinta.

Selagi punya kaki, biarkanlah terus berlari dan menerjah. Bagi aku, aku takkan mungkin untuk berhenti. Walau melompat dengan hanya kaki kiri!

~~Bukan Aku~~

azim said...

aku kira aku punyai kamu semua untuk aku berjalan di dalam gelapku.
walaupun kamu tidak ada di sisiku, aku dapat rasai 'kehadiran' kamu semua mengiringiku.
kamu adalah satu dari mereka, dingin. terimakasih.