Thursday, August 28, 2008

Timur yang merona merah

Dahulu kita punyai pejuang yang melihat penjajahan itu sebagai suatu percintaan nafsu yang murah. Seperti sang pemuda melihat sang gadis yang cantik dan malu-malu. Lalu sang pemuda memberikan sang gadis senyuman memuja, menuturkan kata-kata yang memuji setinggi langit pada indahnya wajah sang gadis. Niatnya hanya satu, agar sang gadis melemah lalu hatinya jatuh.

Gadis yang sememangnya lemah diri itu teruja lalu bermain mata. Cinta terjadi, dosa pahala bukan lagi dalam hitungan. Terkadang sang gadis cemburu dengan sikap sang pemuda yang rakus lalu marah. Pemuda bijak bermain kata, sang gadis melemah. Terkadang kesabaran sang gadis sampai batasan, namun sang pemuda ternyata lebih gagah, memberi bekas merah pada wajah sang gadis. Sang gadis hanya menitis air mata, pasrah. Sang pemuda tersenyum puas.

Sang pemuda bernama Barat dan sang gadis bernama Timur. Dahulu Barat melihat Timur suatu kawasan penuh emas lalu mereka berbondong-bondong datang lalu berjanji untuk peradaban. Namun saat Timur sedar mereka dipergunakan, mereka marah namun Barat lebih kuat.

Walau hari ini percintaan Barat dan Timur sudah putus namun cinta itu tetap datang dengan pelbagai cara. Lalu tanpa sedar, dengan teknologi, Barat sekali lagi cuba mencumbui Timur, dan Timur merona merah pipinya. Semuanya berlaku dengan halus dan sekali lagi, sejarah tetap sahaja berulang.

*Selamat hari Merdeka ke-51 untuk.... ?

2 comments:

Anak Bumi said...

Barat memang agak dayus.

Timur pula menyerah seadanyaaaa..

dingin said...

yo anak bumi