Friday, January 12, 2007

berada di garis tengah

Memikirkan tentang di mana duduknya perasaan ini sebetulnya adalah hal tidak mungkin. Kerna perasaan itu sifatnya ghaib. Tidak bisa di lihat hadirnya. Cuma bisa dirasa dan dinikmati dan juga dideritai.

Ia hanya bisa dikesan melalui perlambangan bahasa percakapan juga bahasa perbuatan. Itu perlambangan yang biasa. dan udah menjadi satu kebiasaan untuk kita.

Namun kita terlupa bahawa sering kali perlambangan yang menjadi indikator perasaan itu juga bisa di bohongi. Contohnya, kita masih bisa tertawa biar perasaan kita bersedih. Masih bisa berbual mesra dengan musuh biar perasaan kita penuh benci.

Itu bukan masalah jika kita sedar bahawa perasaan kita yang sebetulnya. Tapi ia menjadi masalah bila kita mulai terkeliru dengan perasaan kita. Sama ada kita ini sebetulnya gembira atau bersedih? Kita berada di garis tengah dan apabila kita terlalu lama berada di garis tengah akhirnya kita mudah tertipu perasaan kita sendiri. Kerna yang ditengah-tengah itu adalah kawasannya nafsu.

Cinta sering begitu. Kita suka untuk berada di garis tengah atas alasan belum bersedia juga mahu cuba-cuba. lalu biar perbuatan kita seperti menunjukkan cinta kerna udah sampai 'bermain di ranjang' tapi sebenarnya kita tidak punyai cinta. Solusinya, kita bertanggungjawab dengan perbuatan kita dan menikah , biar itu bukan cinta.

Untuk itu, manusia seprti aku dan kalin harus jelas objektif. Berada di garis tengah itu sebtulnya elok. Tapi bila berlama-lama, maka ia kana bisa jadi sesuatu yang merosakkan. hati-hati bila berada di garsi tengah.

3 comments:

Anonymous said...

kadang perlu ke kiri dan ke kanan ikut kesesuaian

azim said...

berada di garis tengah, akan buat semua orang tertanya-tanya.. keliru .. serba salah. maka itu lebih baik kita tetapkan hati, samada mahu ke kiri atas ke kanan, ke atas atau ke bawah, untuk menerima atau menolak

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.